Thursday, February 20
Shadow

Sejarah dan Filosofi Kubah Makara Masjid Tembaga Kuningan

Jika berbicara tentang kubah makara masjid, maka kita perlu mengetahui terlebih dahulu sejarah dan nilai filosofi arsitektur Islam. Apalagi, nilai-nilai yang direfleksikan tersebut terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman dari waktu ke waktu.

Dewasa ini, pengrajin kerajinan tembaga kuningan yang memproduksi kubah makara masjid semakin bermunculan. Mereka mencoba untuk membantu merefleksikan kembali sejarah Islam melalui dekorasi yang melengkapi desain bangunan suatu masjid.

Kubah masjid atau yang disebut dengan atap masjid, merupakan suatu komponen yang harus ada dan selalu berkembang dalam dunia arsitektur. Kubah masjid juga berperan sebagai elemen arsitektur yang biasanya berbentuk seperti setengah bola mengerucut di ujungnya yang disebut makara.

Makara membuat bangunan masjid terasa lebih sejuk, karena semakin tinggi bangunannya, maka ruangan di dalamnya memiliki sirkulasi udara yang baik.

Seperti yang Anda ketahui, kubah makara masjid biasanya terbuat dari beberapa bahan, seperti kaca patri maupun logam tembaga dan kuningan. Jika dilihat dari sisi ketahanan dan keindahannya, kubah makara masjid tembaga kuningan memiliki banyak kelebihan. Salah satunya, bertahan lebih lama di kondisi cuaca apapun dan terlihat lebih mewah serta megah.

Kubah makara masjid tembaga kuningan, biasanya dimanfaatkan sebagai hiasan atau elemen dekoratif suatu bangunan masjid yang memiliki karakter tertentu. Tak jarang pula, beberapa orang menganggap ada nuansa berbeda yang dihasilkan oleh penggunaan makara ini.

Kubah makara masjid tembaga kuningan merupakan salah satu produk lokal dari para pengrajin tembaga kuningan yang ada di Indonesia. Banyak sekali pilihan desain dan ukuran di tiap-tiap jenis makara. Anda juga bisa menentukan sendiri seperti apa model dan ukurannya sesuai dengan keinginan. Pasalnya, kubah berbahan tembaga kuningan cenderung lebih mudah dibentuk ataupun diukir.

Sejarah Kubah Makara Masjid Pertama dalam Peradaban Islam

pixabay.com

 Berawal dari Dome of The Rock

 Masjid berkubah pertama dalam peradaban Islam adalah bangunan ikonik di Timur Tengah, yaitu Dome of The Rock atau Kubah Batu. Keindahan bangunan ini terpancar nyata saat kubahnya berkilauan di bawah terbenamnya matahari Yerussalem.

Dome of The Rock berada di kompleks Al Haram Asy-Syarif yang kontras dengan bangunan lain di sekitarnya, karena saking indahnya. Tak sedikit orang yang mengira bangunan ini adalah Masjid Al Aqsa. Sebab, bagian atas bangunan ini berbentuk kubah, seperti bangunan masjid pada umumnya.

Biaya pembangunan mencapai ribuan dinar

 Dome of The Rock atau yang dikenal dengan nama Masjid Umar ini merupakan bangunan Islam tertua di dunia. Bangunan ini didirikan atas inisiatif Abd. Al Malik pada tahun 685 hingga 691 Masehi. Para sejarawan Al Maqdisi mengungkap, biaya pembangunan masjid ini mencapai 100 ribu dinar (koin emas).

Nilai Filosofi Kubah Makara Masjid Tembaga Kuningan

pixabay.com

Sebagai salah satu komponen terpenting yang tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan masjid, kubah makara memiliki dua fungsi. Fungsi ini berdasarkan dari sisi pemahaman tata ruang. Pertama, sebagai penunjuk arah kiblat dilihat dari sisi luar masjid dan yang kedua untuk menerangi ruang di dalam masjid. Kemegahan dan keindahan akan terlihat secara nyata dari kesan yang dibawa kubah makara tersebut.

Kelapangan dan keterbukaan ajaran Islam

 Tak hanya itu saja, bentuk kubah makara yang mengembang di bagian tengah, merepresentasikan kelapangan dan keterbukaan. Artinya, Islam merupakan ajaran yang terbuka dan mencintai kedamaian. Selain itu, kesan lapang dan luas bagi umat Muslim yang beribadah di dalamnya, memberikan arti kebesaran Allah SWT sebagai penguasa alam.

Toleransi dan keesaan Allah SWT

 Salah satu jenis kerajinan tembaga kuningan yang dirancang oleh kontraktor kubah dari pondasi yang melingkar ini, merepresentasikan toleransi. Sementara itu, bentuk makara yang berupa lingkaran mengerucut ke atas memiliki filosofi keesaan dan kebesaran Allah SWT.

Terlepas dari nilai filosofi di dalamnya, bentuk makara masjid nyatanya selalu berubah sesuai perkembangan zaman. Meski begitu, tetap berdasarkan satu penggambaran yang mampu memberikan energi positif bagi orang yang beribadah di dalamnya.

Jika kita lihat kembali dari sisi sejarah dan nilai filosofinya, gaya serta bentuk kubah makara masjid memang semakin bervariasi. Apalagi ketika Islam akhirnya menyebar dan berinteraksi dengan budaya peradaban lain.

Para arsitek Muslim juga tak segan mengusung pilihan bentuk yang telah ada. Mereka menggunakan teknik dan cara membangun yang memang sudah dimiliki masyarakat setempat. Tak heran, jika bentuk kubah makara masjid seringkali beradaptasi dengan budaya dan tempat di mana sebagian besar masyarakat Muslim tinggal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *